Selaksa Bromo...
Hujan menghantam bumi...mengguyurnya tampa ampun...
Bumi tersungging untuk sementara ia menjadi samudra air keruh..
Disisi lain tampak sembilan sabit sedang sibuk ingin membangun
“cinta daa memoar” di Pelataran Bromo...
Terjalan hujan sedikitpun tidak membuat semangatnya ciut dan meleleh...
Bagai patung Liberty kokoh melawan ombak kuat menahan prahara...
Dari atas atap gubuk keraton air meluncur deras bak lilitan kincir kincir di negeri holland
Busana indah nan megahpun tampak basah menggigil dingin..
Sang pimpinan jama’ah termenung di depan meratapi “bengisnya” kenyataan...
Semua bekal dan persiapan telah lengkap bagai tidur dan mimpinya..
Makanan makanan minuman minuman bagai menu syurga tertata anggun
Tersedia lengkap membuat selera makan terbakar membara
Tepat pada purnama _ 01.00_ kereta avanza meluncur gesit mengejar malam
Melanglang...
melilit jalanan panjang yg sangat melelahkan
Terpandu sang kusir sejati yg sengaja kami undang dari negeri mimpi.
Pualam pualam serta lampu penerang jalan menjadi teman setia perjalanan sembilan sabit menuju selaksa Bromo
Indah...sangat..fantastic daa classic
Tak kan ada satu waktupun yg bersedia melupakan dan terlupakan.
Canda merta tawa riang di atas kereta bagai suara harmoni di tengah sahara tandus pada musim semi...
Sentuhan demi sentuhan terasa jujur memberi mereka(sembilan sabit) sekerat pelajaran yg tak akan habis dimakan masa..tak akan lekang terkikis waku
Sembilan sabit.
Bersama dengan desiran nafas nafas malam mereka berjalan menuju Memoar Daa Cinta
Di Bukit bromo yg menggigil mereka mencipta aksara dari ribuan peceklik yg melanda
Membangun kerajaan mimpi yg masa depannya adalah kebahagiaan dan andingnya adalah surga tuhan.
Detak jantung sang malam kian keras berdentang mendekati ajal sementaranya...
Menunggu sang fajar yg bangkit menggantikannya..
Disanalah sembilan sabit mengejar senyum sang fajar...
Disanalah sembilan sabit mengukir sejarah manusia dengan “Memoar Daa Cinta”
Mengabadikannya dalam hidup yang berpetualangan.
Dalam Kisah asing yg pemain pemainnya kaku dan jumud tertawan malu...
**********
*********
Dari jauh ku lihat bias cahaya terpancar anggun...namun sedikit redup tertutup kabut.
Dialah sang fajar,,,lambang Memoar daa cinta yg suci dan kokoh abadi merajai hati
Ditengah tengah hamparan luas Bromo yg permai....
Liuk liuk tubuhnya tampak gagah berdiri melambangkan kehebatan pelukisnya
Lilitan jalan dan kabut pagi tambah membuatnya indah..
Ibarat bidadari dengan selendang di lehernya....
Disisi kanan dan kiri gunung terhias seruni seruni dan bunga cinta abadi...
Membuatku hanya bisa merinding takjub...
Subhaanallaah...!
Dari kereta sang sabit turun..
Angin dan fajar telah menyatu membentuk sejuk dan dingin yg tak terkira..
Kuping dan hidung terasa membeku tercabik cabik halimun kabut yg membentuk gumpalan awan putih tebal dan menusuk tubuh..
Dari jauh sipipit berlarilari dg si bagong...sembari menikmati buaian angin pagi yang sejuk
Si Ibu Dan Si Anak hanya mampu bedecak kagum..
Dari mulutnya terus mengalir ucapan ucapan lirih,,,,
Dari jauh kudengar Beliau memanjatkan tasbih dan tahlil..
(LILLAHI MAA FISSAMAWAATI WAL ARDI_^^
(MA KHOLAQTA HADZA BAATILAN_^^
Segala yang ada di pelataran mayapada ini adalah milik ALLAH SWT
Dan DIA tidak menciptakan semua ini tanpa kandungan hikmah...(kesia siaan)
Aku dan si setia Budi asyik mengabadikan fatamorgana ini...
Seakan tak mau sadesah nafaspun terlewati tanpa tanda keabadian
Semua terlihat Sibuk...
*****
Matahari semakin menukik menggerayangi tubuh gunung bromo...
Warga tengger kembali sibuk membabat bumi....
Sabit sembilan kembali ke pelataran kereta yang akan membawa mereka merayapi jalan jalan indah di lereng lereng permai...
Kereta melaju cepat...melesat bagai kijang...di belantara...
Akhirnya Disisi sebuah taman permai yang mana suara suara bising kereta membuat classical momentum...semakin kental..
Aku turun memijak..
Perut terasa perih tertusuk lapar dan pusing yang menjadi jadi..
Digelarlah tikar dan permadani..
Semua bekal dan persediaan makanan dikeluarkan semua..
Si pipit dan si betina membantu ibu mengelar dan menata santapan pagi
Yang tentunya sangat nikmat menggiurkan...
Tidak butuh waktu lama...
Sekejap saja sembilan pipit telah terbang ke alam buana kuliner..
Segala menu spesial telah di persipkan...
Desiran angin tambah menambah suasana semakin asyik selerapun tambah hidup...
Hanya ada satu kata untuk melukiskannya
“Tak Terlupakan...Sungguh Agung Engkau....!
Tuhan....!
Si raja siang semakin menukik membakar ubun ubun langit
Kabut putih sudah tak tampak membayangi laju kereta
Dari jauh terlihat Gunung bromo melambai...tanda perpisahan.
Aku dan sembilan sabit lainnya hanya kuasa berharap..
Semoga lain purnama kita bisa kembali mengembara
Sejuta mimpi telah dibangun disini..di pondasi kaki kaki bromo
Seluas samudra selebar angkasa sembilan sabit telah melukis langit dengan cinta
Membakar keangkuhan dan kesunyian di balik rerumpunan tragedi aneh
dia adalah aku...
Orang yang paling merasa bahagia apabila mendapat ketulusan dan kesucian cinta.
Ah..
Mimpi adalah angin yang membelai rumput dan janur di pagi hari...
Mimpi adalah ujung kuku yang tak pernah berhenti melangkah..
Mimpi adalah Aliran sungai yang tak pernah lelah mengalir
Mimpi adalah Surga yang dirindukan oleh setiap nyawa
Mimpi adalah tangga yang menghubungkan kita dengan tuhan
Mimpi adalah samudra tempat bahtera berlayar dan berlabuh
Mimpi adalah Elang yang tiada letih membelah langit
Mimpi adalah Badai yang kejam membungkam butala
Mimpi adalah lahar yang bengis meleleh..
Dan kalau mau...kamu pun akan menjadi mimpi disetiap malam malamku?
Dan kalau mau kamupun akan menjadi satu sisi dari mimpiku tadi malam.
Dan kalau mau akupun akan menjadi mimpimu lagi.
*Cerita ini murni fiktif,apabila ada kesamaan nama tempat dan pemain itu hanya kebetulan
Parengan,28 April 2010
-(Alie Whafa Raiezx’v89)-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar